Diperankan Kim Bum di 'Tanah Air Kedua', Begini Kisah Komarudin, Warga Korea yang Jadi Pahlawan Indonesia

Sedang ramai di sosial media Kim Bum akan perankan sosok Komarudin di film 'Tanah Air Kedua', bagaimana kisah Komarudin hingga jadi pahlawan
KPOPCHART.NET – Sedang heboh di Indonesia rumor bahwa Kim Bum akan berperan sebagai Komarudin di film “Tanah Air Kedua”.
Rumornya, Kim Bum akan berperan sebagai Komarudin dan beradu akting dengan Maudy Ayunda di film “Tanah Air Kedua”.
Rumor film “Tanah Air Kedua” yang akan diperankan Kim Bum yang menjadi Komarudin ini pun menuai perhatian banyak netizen.
Banyak netizen yang berharap bahwa film “Tanah Air Kedua” benar-benar diproduksi dengan Kim Bum sebagai pemerannya.
Ramai di kalangan netizen, Komarudin yang akan diperankan oleh Kim Bum ini merupakan pahlawan Indonesia yang berasal dari Korea.
Komarudin, memiliki nama asli Yang Chil Seong, pemuda yang dipaksa membantu Jepang untuk menjaga para tahanan.
Pada (07/12/1941), Jepang memulai Perang Pasifik dan dengan mudah menguasai bagian Asia Tenggara.
Pada tahun 1941-1942, Jepang menuju Hongkong, Manila, Singapura, dan termasuk Indonesia.
Sekitar 300.000 orang ditahan oleh pasukan tentara Jepang.
Hal itu membuat para tentara Jepang memaksa sekitar 3000 pemuda Korea untuk menjadi penjaga tahanan.
Baca Juga: OP Sebut Gigi Joshua SEVENTEEN Mirip Logo BTS, Netizen: Nangis Banget, Kenapa Kepikiran...
Para pemuda Korea ini dikumpulkan di unit Noguchi pada (15/06/1942), kemudian dilatih setiap hari.
Mereka dilatih untuk menjadi tentara yang membantu Jepang dalam menjaga tahanan di Asia Tenggara.
Pemuda Korea ini, yang sebelumnya tak tahu soal militer, diperlakukan kasar dan ditampar setiap hari oleh tentara Jepang.
Baca Juga: Knetz Curiga Seunghan RIIZE Akan Dikeluarkan dari Grup Usai Kontroversi Ciuman dan Tak Hadiri NPOP
Salah satu dari pemuda Korea tersebut adalah, Komarudin, yang nama aslinya adalah Yang Chil Seong.
Komarudin (Yang Chil Seong) saat itu berusia 23 tahun, ia juga merupakan seorang ayah dari seorang bayi.
Juni 1942, Komarudin meninggalkan keluarganya di Korea dan dipaksa mengikuti pelatihan tentara oleh Jepang.
Baca Juga: XODIAC Rilis Konsep Foto Pertama untuk Single Album 'Lemonade', Netizen: Stress Banget Zayyan...
Saat itulah terakhir kali ia bertemu dengan keluarganya di Korea.
Dari Jeonju menuju Busan, Komarudin (Yang Chil Seong) bergabung dengan para pemuda Korea lainnya.
Setelah pelatihan dari tentara Jepang, pada Agustus 1942, kapal dari Busan berangkat menuju Saigon, Singapura, dan Indonesia.
Sebanyak 1.408 orang pemuda Korea turun di Jawa, Indonesia, termasuk salah satunya adalah Komarudin (Yang Chil Seong).
Lebih dari 83.000 orang ditahan di Jawa oleh pasukan Jepang.
Komarudin (Yang Chil Seong) ditugaskan menjaga para tahanan di kota Cimahi.
Jepang mengalami kekalahan perang di berbagai tempat dan mulai mundur dari Indonesia.
Namun kesialan lain justru menimpa para pengawas tahanan dari Korea, termasuk Komarudin.
Saat Jepang mundur, tentara Belanda mulai menduduki Indonesia dan menangkap para pengawas tahanan dari Korea.
Para pengawas tahanan dari Korea ini dianggap sebagai penjahat perang oleh Belanda.
Mereka kemudian ditangkap dan ditahan oleh pasukan tentara Belanda.
Namun, Yang Chil Seong atau Komarudin berhasil melarikan diri bersama dengan sepuluh pemuda Korea lainnya pada (10/02/1946).
Meski Indonesia sudah mendeklarasikan kemerdekaan pada (17/08/1945), namun tentara Belanda masih belum mundur.
Presiden Soekarno kala itu pun langsung merencanakan perang kemerdekaan untuk mengusir Belanda.
Kala itu, Yang Chil Seong atau Komarudin, juga dikenal dengan nama Pangeran Papak, ikut dalam pasukan yang terletak di Bandung, Jawa Barat.
Komarudin kemudian melatih para pasukan perang Indonesia dengan mengajarkan membuat dan merakit bom.
Selain itu, Komarudin juga turut andil dalam perencanaan strategi perang melawan Belanda.
Komarudin meledakkan gudang senjata tentara Belanda sehingga mengalami kerugian besar.
Selain itu, Komarudin juga aktif di Cimanuk dengan meledakkan jembatan yang akan dilewati oleh pasukan Belanda.
Di akhir perang pasifik, Komarudin ditahan bersama tahanan wanita asal Indonesia bernama Sumiyani.
Ia kemudian menikah dengan Sumiyani dan dikaruniai seorang putra bernama Edi Campey yang meninggal pada tahun 1998.
Komarudin dan penjaga tahanan Korea lainnya terus dikejar oleh tentara Belanda.
November 1948, sehari sebelum serangan penjajah Belanda, Komarudin dan keluarga melarikan diri ke pedalaman gunung.
Keesokan harinya, pasukan Belanda berhasil mengepung tempat Komarudin sebelumnya.
Sahabat Komarudin, Shiroyama akhirnya meninggal dunia.
Komarudin terus berjuang hingga akhirnya ditangkap Belanda bersama Hasegawa di desa Paretas kaki gunung Dora.
Komarudin akhirnya dieksekusi pada (10/08/1949).
Identitas asli Komarudin akhirnya terungkap setelah 26 tahun setelah kepergiannya.
Ia tadinya dikira orang Jepang karena saat datang ke Indonesia memakai nama Yanagawa Shichisei.
Tak hanya Komarudin saja yang memakai nama Jepang, namun semua pemuda Korea yang dipaksa Jepang untuk menjaga tahanan juga diberi nama Jepang.
Tahun 1975, makam Komarudin akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Garut.
Sementara itu, nama Komarudin diberikan oleh warga Indonesia karena saat itu kesulitan menyebut nama Jepang dan Korea.
Komarudin berarti cahaya, nama itu diberikan karena kecerdasan Komarudin dalam memberikan ilmu perakitan bom untuk prajurit Indonesia.
Komarudin juga dikenal pintar dalam beberapa bahasa seperti bahasa Inggris dan Jepang.






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.