BTS dan BLACKPINK Sukses Berat tapi Neraca Perdagangan IP Korea Selatan Defisit, Ada Apa?

Di tengah kesuksesan BTS dan BLACKPINK, neraca perdagangan Korea Selatan mengalami defisit jika dibandingkan dengan tahun lalu.
KPOPCHART.NET - Di tengah kesuksesan BTS dan BLACKPINK, ternyata neraca perdagangan Property Intelectual (IP) Korea Selatan mengalami defisit.
BTS dan BLACKPINK merupakan idola K-Pop yang sudah mendunia.
Kepopuleran BTS dan BLACKPINK tentunya bisa membantu neraca perdagangan di negara mereka dalam bidang IP melalui karya-karya mereka.
Ekspor album musik BTS maupun BLACKPINK serta idol K-Pop lainnya merupakan bentuk perdagangan IP Korea Selatan.
IP atau hak kekayaan intelektual sendiri sangat erat dengan industri kreatif seperti agensi-agensi yang menaungi BTS, BLACKPINK, maupun idol K-Pop lainnya.
Bukan hanya album dan musik artis K-Pop seperti BLACKPINK dan BTS, industri seni peran drama dan film Korea Selatan yang sukses juga merupakan bentuk IP yang dimiliki si negeri Ginseng.
Baca Juga: HYBE Jual Seluruh Saham di SM Entertainment, Kakao Akan Dapat yang Diinginkan Akhir Bulan ini
Namun, ternyata jika dibandingkan dengan tahun 2021 keuntungan neraca perdagangan IP Korea Selatan malah defisit di tahun 2022.
Melansir dari KBIZoom, keseluruhan neraca perdagangan kekayaan intelektual Korea Selatan terhitung defisit sebesar 1,33 miliar Dollar AS atau setara dengan 20 miliar Rupiah.
Neraca perdagangan kekayaan intelektual di sini mencakup semua jenis transaksi IP, termasuk hak kekayaan industri (hak paten, model utilitas, waralaba, dll) dan hak cipta (hak cipta musik dan video).
Sedangkan menurut jenisnya, defisit pada bidang hak kekayaan industri di Korea Selatan sendiri sebesar 2,62 miliar Dollar AS atau sekitar 39 miliar Rupiah.
Nilai tersebut menunjukkan keuntungan berkurang 450 juta Dollar AS atau lebih dari 6 miliar Rupiah jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Defisit tersebut terjadi disebabkan oleh kurangnya jumlah ekspor paten dan model utilitas perusahaan domestik Korea Selatan ke luar Negeri.
Lalu, ada hak cipta (musik dan video) memperoleh surplus sebanyak 1.52 miliar Dollar AS atau sekitar 23 miliar Rupiah yang jika dibandingkan dengan tahun lalu mengalami defisit sebanyak 16 miliar Rupiah.
Bukan dari industri musik dan drama, defisit terbesar neraca perdagangan IP Korea Selatan berasal dari program komputer dan game.
Peningkatan defisit pada kekayaan program komputer dan game mereka meningkat sebanyak 1,8 miliar Dollar AS atau sekitar 27 miliar Rupiah.
"Sejak September 2021, China telah mengurangi penerbitan persetujuan karena khawatir akan kecanduan game pada remaja sehingga mengakibatkan penurunan surplus yang signifikan," jelas Hwayong Kim, Biro Statistik Ekonomi Bank Korea Selatan.






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.