Gunakan Budaya Sebagai 'Lelucon' di Program Boys Planet, Mnet Tuai Kritikan Keras

Mnet mendapat kecaman dari netizen internasional karena menggunakan hiasan kepala dari suku Indian di Amerika sebagai lelucon.
KPOPCHART.NET - Boys Planet merupakan program survival terbaru dari Mnet, di mana para trainee dari berbagai negara bersaing untuk berkesempatan debut dalam grup baru.
Saat ini hanya akan ada 52 kontestan teratas yang lolos ke babak berikutnya. Di tengah itu, Mnet membuat segmen yang menarik perhatian.
Pada satu segmen tersebut peserta akan di prank menggunakan kostum random yang diberikan oleh produser pada saat mereka tampil.
Peserta grup K membawakan lagu "Love Me Right" dari EXO dan bersiap untuk tampil.
Seorang staf tiba-tiba memperlihatkan penutup kepala yang membuat peserta terkejut melihatnya.
Dan staf tersebut memberikan penutup kepala itu kepada Hui PENTAGON, Hui merasa bingung apakah kostum itu pantas untuk dijadikan prank.
Baca Juga: Foto Masa Lalu Han Yujin Boys Planet Bersama Wanita Beredar, Netizen: Belum Debut Saja Sudah..
Dengan terpaksa Hui memakai penutup kepala tersebut untuk tampil ke panggung walau dengan perasaan tidak nyaman.
Kritik mulai bermunculan karena penonton internasional melihat penutup kepala tersebut merupakan barang khusus yang dikenakan oleh suku Indian di Amerika.
Bagi banyak orang, hiasan kepala adalah simbol kepemimpinan, di mana setiap bulu diperoleh dan menunjukkan posisi kepemimpinannya.
Hiasan kepala tersebut juga dipakai untuk acara budaya atau acara spiritual khusus.
"Hiasan kepala adalah simbol kepemimpinan, dan setiap bulu diperoleh dan menunjukkan posisi kepemimpinan."
"Tidak semua orang dalam budaya Indian Amerika berhak mengenakan penutup kepala. Mereka dipakai untuk acara budaya atau spiritual khusus," seperti yang dijelaskan oleh Walikota Kansas.
Baca Juga: Banyak Mantan Trainee-nya Gabung di Boys Planet, Cube Entertainment Bikin Penggemar K-Pop Bingung?
Banyak yang menunjukkan bahwa Hui dan Gyu Vin tampak tidak nyaman dengan apa yang dilakukan produser.
Meskipun itu adalah lelucon, para kontestan menganggapnya serius, dan dengan pertaruhan yang begitu besar pada acara tersebut, tidak mengherankan jika para peserta bersedia melakukan apa saja.
Untuk acara global seperti itu, sangat mengecewakan bahwa menggunakan suatu budaya sebagai lelucon.






Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.